Kutipan kisah berikut sangat menggetarkan saya secara pribadi ketika membacanya, tentang kerinduan dan kedekatan rasa pada Yang Maha Esa dan UtusanNya.
Oleh karena itu, saya ingin membaginya dengan kalian semua dan semoga kalian juga bisa merasakan hal yang luar biasa setelah membacanya. Saat dimana seluruh permasalahan luruh dalam keheningan "berdekatan denganNya".
Inilah bagian Klimaks Ketika Nabi Muhammad SAW melewati “tempat yang tiada berbatas” (sidrat al-muntaha) dan akhirnya sampai pada keharibaan Tuhan sendiri.
Inilah tahapan terakhir dari “Mi’raj” Nabi Muhammad SAW.
Yang Menggetarkan Hati Para Perindu.
“Ketika aku dibawa dalam perjalanan malamku ke (tempat) Arsy, dan mendekatinya, selembar rafraf (kain brokat halus) berwarna hijau digelar untukku; sesuatu yang amat indah untuk kugambarkan kepadamu, sedangkan Jibril mendahuluiku dan mendudukkanku di atasnya. Kemudian Ia menarik diri dariku dan meletakkan tangan di matanya karena takut pandangannya rusak oleh cahaya Arsy yang berkilauan, Kemudian Jibril mulai menangis keras dengan menyebut puji-pujian, tasbih dan tahmid serta tathniyah kepada Allah. Dengan izin Allah, sebagai tanda kasih-Nya dan kebaikan-Nya yang sempurna kepadaku, rafraf itu mengangkatku kepada (keharibaan) Penguasa Singgasana, sesuatu yang terlalu menakjubkan bagi lidah untuk dapat menceritakannya dan bagi khayalan untuk dapat menggambarkannya. Penglihatanku begitu silau oleh-Nya sampai-sampai aku takut menjadi buta. Untuk itu dengan pertolongan Allah kututup mataku. Kemudian, demikian aku menutupi pandanganku, Allah memindahkan pandanganku (dari mataku) ke hati, sehingga dengan hatiku aku mulai melihat pada apa yang sebelumnya kulihat dengan mataku. Cahaya itu amat terang kilauannya sehingga aku merasa putus asa untuk menggambarkan kepadamu apa yang aku lihat tentang kebesaran-Nya itu. Kemudian aku mohon kepada Tuhanku agar menyempurnakan anugrah-Nya bagiku agar aku memiliki daya lihat yang kuat untuk memandang diri-Nya dengan hatiku. Kemudian, setelah Tuhan mengabulkan permohonanku aku tatap Dia dengan hatiku secara terus menerus sehinga aku mempunyai pandangan yang tetap akan Diri-Nya.
“Di sana Dia berada, ketika tabir telah di singkapkan dari diri-Nya, duduk di atas singgasana-Nya, dalam kebesaran-Nya, kekuatan-Nya, keagungan-Nya, kemuliaan-Nya, tetapi diluar itu semua aku tidak diizinkan menggambarkan Diri-Nya kepadamu. Maha Mulia Tuhan. Betapa Agungnya Dia. Betapa seluruh ciptaannya adalah rahmat! Betapa mulia kedudukan-Nya. Betapa cemerlang sinar-Nya. Kemudian, Tuhan sedikit merendahkan kebesaran-Nya dan mendekatkan aku kepada Diri-Nya, sebagaimana yang telah Ia firmankan dalam kitab-Nya, menjelaskan kepadamu bagaimana Ia memperlakukanku dan menghormatiku: ‘Suatu (Dzat) yang memiliki kekuatan’. Diri-Nya berdiri tegak, seketika Ia mencapai titik horizon tertinggi. Kemudian Ia mendekat dan turun, sehingga Ia hanya dua busur dariku atau bahkan lebih dekat (Al-Quran, 53:6-9). Ini berarti berarti bahwa ketika Tuhan ingin mendekatiku, Ia dekatkan aku pada-Nya sedekat jarak antara dua ujung busur, bahkan lebih dekat dari pada jarak panggul busur dengan ujungnya yang melengkung. ‘Kemudian Ia turunkan apa yang Ia wahyukan kepada hamba-Nya’, yakni hal-hal yang telah Ia tentukan untuk diperintahkan atasku. ‘Hati-Nya tidak memalsukan apa yang dilihat-Nya’, yakni penglihatanku akan Diri-Nya dengan hatiku. Sungguh ia telah melihat salah satu dari tanda-tanda paling besar dari Tuhan-Nya.
“Kini, ketika Allah – Maha Besar Dia – merendahkan kebesaran-Nya untukku, Ia letakkan satu dari tangan-Nya di antara pundakku dan aku rasakan dinginnya jari-jari Tuhan selama beberapa saat dalam hatiku, saat aku merasakan kemanisan sedemikian rupa – aroma yang begitu wangi, kesejukan yang begitu sejuk, suatu rasa memperoleh kehormatan (karena diberi kesempatan) untuk melihat Diri-Nya; seluruh rasa cemasku cair dan rasa takut pun pupus dariku, sehingga hatiku menjadi tenang. Saat itu hatiku dipenuhi perasaan gembira, mataku menjadi segar, dan kenikmatan serta kebahagiaan begitu meliputi diriku, kemudian aku mulai terangguk-angguk dan terayun-ayun ke kiri dan ke kanan seperti seseorang yang telah dibuai rasa kantuk. Sungguh, kurasakan seolah semua orang di langit dan di bumi telah mati, karena aku tak mendengar suara-suara para malaikat; tidak pula, ketika memandang Tuhanku, aku lihat tubuh-tubuh gelap. Tuhanku membiarkan aku disana selama beberapa saat sesuai dengan kehendak-Nya, kemudian Ia kembali, menyadarkanku, aku merasa seperti baru bangun dari tidur. Aku sadar kembali dan menjadi tenang, menyadari di mana aku berada dan bagaimana aku baru mengecap kenikmatan yang berlimpah serta menampak kebahagiaan yang nyata.
“Kemudian Tuhanku – segala kebesaran dan puji bagi-Nya - berbicara kepadaku: ‘Wahai Muhammad, adakah engkau tahu apa yang tengah diperdebatkan oleh Dewan tertinggi?’ Aku menjawab: ‘Wahai Tuhan, Engkau lebih mengetahui tentang hal itu, sebagaimana Engkau mengetahui persoalan-persoalan yang lain, karena Engkau Maha Mengetahui atas segala yang ghaib. ‘Mereka tengah memperdebatkan, firman Tuhan, ‘tentang kemuliaan (darajah) dan kebaikan-kebaikan (hasanah). Adakah engkau mengetahui, wahai Muhammad, apakah kemuliaan dan kebaikan itu?’ Maka jawabku: Wahai Tuhan, Engkau lebih mengetahui lagi bijaksana. Kemudian Allah berfirman: ‘Kemuliaan menyucikan diri dari perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan perselisihan, melangkahkan kaki menuju majlis-majlis keagamaan, mengharapkan datangnya waktu shalat berikutnya ketika satu waktu shalat telah habis. Sedangkan yang termasuk dalam kebaikan-kebaikan itu adalah memberi makan orang yang lapar, menebarkan salam, dan melaksanakan shalat tahajud di waktu malam ketika orang lain sedang tidur. Tak pernah aku mendengar sesuatu yang lebih merdu dan menyenangkan daripada kemerduan suara Tuhan itu.
“Demikianlah merdunya suara Tuhan yang memberiku keyakinan, sehingga aku dapat berbicara kepada Tuhan tentang keinginan-keinginanku. Aku berkata: ‘Wahai Tuhan, Telah Engkau ambil Ibrahim sebagai sahabat-Mu, telah Engkau ajak bicara Musa secara berhadapan, telah Engkau tempatkan Nuh di tempat yang tinggi, telah Engkau berikan Sulaiman suatu kerajaan yang tak pernah dimiliki orang lain, dan telah Engkau anugerahi Dawud dengan kitab Zabur. Wahai Tuhan, kemudian apa yang akan Engkau anugerahkan kepadaku?’ Allah menjawab: ‘Wahai Muhammad, Kujadikan engkau sahabat-Ku sebagaimana Aku jadikan Ibrahim sahabat; Aku berbicara denganmu secara berhadapan sebagaimana Aku berbicara dengan Musa; Aku anugrahkan kepadamu al-Fatihah (surat I) dan ayat-ayat terakhir surat al-Baqarah (surat ke II: 284-286), dari perbendaharaan Singgasana-Ku dan yang belum pernah Aku berikan kepada Nabi sebelum kamu; Aku utus engkau sebagai Nabi bagi manusia bumi berkulit putih, hitam dan merah, kepada jin dan manusia, walaupun tak pernah sebelumnya Aku utus seorang nabi kepada seluruh manusia; Aku berikan bumi, daratan dan lautannya, untukmu dan masyarakatmu sebagai tempat untuk menyucikan diri dan beribadah; Aku anugerahkan kepada masyarakatmu hak memiliki harta rampasan sebagai pemberian yang belum pernah Aku anugerahkan kepada masyarakat lain sebelumnya; Aku akan menolongmu dengan kekuatan yang menakutkan musuh-musuhmu dan membuat mereka lari darimu, sedangkan kamu masih berjarak sebulan perjalanan dari mereka; akan Kuturunkan padamu induk segala buku dan petunjuk bagi mereka, Al-Quran, yang Kami turunkan secara berangsur-angsur (Al-Quran, 17:106-107), akan Aku tinggikan namamu walaupun hingga taraf menggabungkannya dengan nama-Ku sedemikian, sehingga tak ada aturan-aturan agama-Ku yang akan selalu disebut tanpa menyebutmu bersama diri-Ku.’
Kemudian setelah itu, Tuhan menyampaikan kepadaku hal-hal yang aku tak diizinkan menceritakannya kepadamu, dan setelah Ia mengambil daripadaku dan meninggalkanku di sana untuk beberapa saat, sebagaimana yang Ia kehendaki, Ia duduk kembali di atas Singgasana-Nya. Segala puji bagi-Nya dalam kebesaran, keagungan dan kehendak-Nya. Kemudian aku melihat dan menyaksikan sesuatu yang melintas di antara kami, dan tabir cahaya ditarik di hadapan-Nya, menyala dengan panasnya pada suatu jarak yang tak seorang pun mengetahuinya kecuali Allah; begitu hebatnya sinar itu sehingga jika jatuh, niscaya ia akan membakar seluruh ciptaan Allah. Kemudian rafraf hijau yang dengan mengendarainya aku diturunkan, secara perlahan naik dan turun bersamaku ke dalam ‘illiyyun . . . sehinga aku sampai kembali pada Jibril yang mengambilku dari rafraf itu. Kemudian rafraf hijau itu terbang, hingga tak tampak lagi dari pandanganku.”
Semoga Allah SWT meridhoi tulisan ini, semoga mendatangkan Berkah dan Manfaat bagi Kita semua. Amiin.
Dikutib dari:
Edisi Bahasa Indonesia : MUHAMMAD KEKASIH ALLAH (Diterjemahkan Oleh : Bachtiar Effendi)
Penerbit MIZAN, cetakan ke-5 Feb 1993.
Edisi Asli : Muhammad Man of Allah (Oleh : Seyyed Hossein Nasr). Penerbit : Muhammadi Trust. London, 1982.
Subhanallah. nangis saya mas
BalasHapusAllahumashaliala sayidina Muhammad
BalasHapusTeruslah berkarya
BalasHapus